Belum Resmi di Lantik Serta Belum Terima SK Kepenguran
MEMALUKAN! Ketua DPC GRANAT Kuansing Diki Saputra 'Jual' Prinsip Anti Narkoba: Demi Rp100 Juta, Berdamai dengan Oknum Polisi Pemeras
Jumat, 24-07-2026 - 22:02:58 WIB
PEKANBARU –OPSINEWS.COM- Janji muluk soal perlawanan terhadap narkoba dan penegakan keadilan yang digaungkan Ketua DPC GRANAT Kuantan Singingi (Kuansing), Diki Saputra, ternyata hanya retorika kosong yang mudah runtuh oleh godaan uang. Sosok yang seharusnya menjadi benteng moral organisasi anti narkoba ini terbukti menjilat ludahnya sendiri, berbalik arah dan berdamai dengan oknum kepolisian yang dilaporkannya, hanya demi tebusan Rp100 juta.
Langkah memalukan ini mencoreng habis kehormatan GRANAT – organisasi yang lahir dengan semangat memberantas peredaran gelap narkoba di tanah Riau. Padahal, tak lama berselang, Diki datang dengan penuh kemarahan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Riau pada Jumat, 22 Mei 2026. Di hadapan aparat dan publik, ia menegaskan tak akan pernah berkompromi, tak ada kata damai terhadap dugaan tindak pidana pemerasan yang dilakukan oleh Harianto Manik alias Anto Manik, mantan Kanit Reskrim Polsek Benai.
Sikap tegas itu kini berubah menjadi tontonan yang memuakkan. Begitu mendengar tawaran uang damai sebesar Rp100 juta, Diki seketika melupakan prinsip, melupakan keadilan, dan melupakan amanah yang diembannya. Ia memilih bungkam dan berdamai dengan oknum yang tak hanya dituduh memeras, tapi juga disorot memiliki pola kerja "tangkap lepas" terhadap para pelaku narkoba – praktik yang merugikan upaya pemberantasan kejahatan berbahaya tersebut.
Memanfaatkan Organisasi untuk Keuntungan Pribadi
Tindakan Diki dinilai bukan sekadar kelalaian, melainkan bentuk pengkhianatan nyata terhadap marwah organisasi. Ia terbukti memperalat nama besar GRANAT hanya sebagai alat tawar-menawar demi keuntungan pribadi. Dengan sikapnya itu, seolah-olah organisasi anti narkoba ini ikut melegalkan praktik kotor oknum kepolisian yang seharusnya menjadi garda terdepan penegakan hukum.
Kini, nama baik GRANAT Riau tercoreng di mata masyarakat. Publik bertanya-tanya: Apakah perjuangan yang disuarakan selama ini hanya topeng semata? Apakah keadilan dan perlawanan terhadap narkoba bisa dibeli dengan uang tunai?
Diki Saputra telah memberikan contoh yang sangat buruk. Alih-alih memperkuat kepercayaan publik terhadap lembaga yang dipimpinnya, ia justru menanamkan persepsi bahwa jabatan di organisasi kemasyarakatan bisa diperjualbelikan. Sikap damai yang diambilnya dianggap membuka jalan bagi keberlangsungan praktik pemerasan dan kelonggaran penanganan kasus narkoba di wilayah hukum Kuantan Singingi.
Sampai saat ini, belum ada penjelasan rasional maupun klarifikasi resmi dari pihak DPC GRANAT Kuansing terkait penyimpangan sikap ketuanya. Masyarakat pun menuntut pertanggungjawaban organisasi, apakah akan membiarkan pimpinan yang telah menjual kepercayaan publik tetap duduk di kursi kekuasaan, atau justru berani mengambil sikap tegas demi menyelamatkan sisa wibawa yang tersisa.
Tindakan Diki menjadi bukti nyata bahwa di antara barisan pejuang, masih ada yang dengan mudah tergoda materi, bahkan terkesan mengorbankan kepentingan umum organisasi GRANAT demi keuntungan pribadi. Red*
Komentar Anda :