Antrean BBM di Sergai Belum Terurai, Pertalite Masih Sulit Didapat; Penjelasan Pertamina dan Gubernur Sumut Berbeda
Serdang Bedagai, Sumatera Utara. OPSINEWS.COM - Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) masih terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara, hingga Rabu (15/7/2026). Kondisi tersebut menunjukkan pasokan BBM, khususnya jenis Pertalite dan Solar, belum sepenuhnya kembali normal.
Berdasarkan pantauan Opsinews.com, aktivitas pengisian BBM di sejumlah SPBU masih diwarnai antrean kendaraan roda dua maupun roda empat. Di SPBU 14.205.1107 Kecamatan Sei Bamban, masyarakat tampak mengantre untuk memperoleh BBM nonsubsidi jenis Pertamax karena stok Pertalite belum tersedia. Sementara itu, di SPBU 14.206.190 Kecamatan Sei Bamban, tidak terlihat aktivitas pengisian BBM pada saat pemantauan dilakukan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat masih mengalami kesulitan memperoleh BBM bersubsidi, meskipun berbagai langkah percepatan distribusi telah dilakukan.
Di tengah situasi tersebut, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab terganggunya distribusi BBM. Namun, penjelasan tersebut berbeda dengan keterangan yang disampaikan Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, sehingga memunculkan perhatian publik terkait penyebab utama terjadinya antrean di berbagai SPBU.
Pertamina: Lonjakan Konsumsi Jadi Penyebab Terganggunya Distribusi
Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrogi Andriani Sumampouw, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Sumatera Utara atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat antrean panjang di sejumlah SPBU.
Dalam keterangan resminya yang juga beredar melalui rekaman video di media sosial, Fahrogi menegaskan bahwa Pertamina terus bekerja maksimal mempercepat normalisasi distribusi BBM.
"Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Sumatera Utara yang terdampak. Kami tidak menutup mata terhadap situasi yang terjadi di lapangan dan kami akan terus bekerja maksimal untuk mempercepat pemulihan distribusi BBM," ujarnya.
Menurut Fahrogi, dalam beberapa hari terakhir terjadi peningkatan konsumsi BBM yang cukup signifikan di wilayah distribusi Fuel Terminal (FT) Medan Group, terutama setelah berakhirnya masa libur sekolah.
Lonjakan permintaan tersebut menyebabkan kebutuhan distribusi meningkat sehingga diperlukan penyesuaian kapasitas angkutan serta penambahan ritase mobil tangki agar pasokan BBM ke SPBU dapat kembali mengimbangi kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, Pertamina memastikan stok BBM di Fuel Terminal Medan Group tetap dalam kondisi aman. Kendala yang dihadapi lebih kepada percepatan penyaluran BBM dari terminal menuju SPBU.
Distribusi Dipercepat, Armada dan Personel Ditambah
Sebagai langkah percepatan normalisasi distribusi, Pertamina mengoperasikan Fuel Terminal Medan selama 24 jam penuh.
Selain itu, sejumlah langkah strategis juga dilakukan, antara lain:
- Menambah 20 unit mobil tangki.
- Menerapkan skema spot charter untuk memperkuat armada distribusi.
- Menambah awak mobil tangki dari terminal lain.
- Mendapatkan dukungan personel dari Bekang TNI.
- Melakukan alih suplai (supply shifting) dari Fuel Terminal Kisaran, Siantar, dan Lhokseumawe.
Fahrogi menjelaskan distribusi diprioritaskan ke SPBU yang melayani jalur logistik, angkutan umum, serta wilayah dengan tingkat kebutuhan tinggi tanpa mengabaikan daerah lainnya.
Ia menambahkan koordinasi juga terus dilakukan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, aparat penegak hukum, Hiswana Migas, pengelola SPBU, serta seluruh pemangku kepentingan.
Pertamina juga mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan agar distribusi dapat berjalan lebih lancar.
"Kami memahami masyarakat mengharapkan tindakan nyata, bukan sekadar penjelasan. Karena itu seluruh jajaran PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut terus bekerja di lapangan menambah ritase, memperkuat armada, dan memastikan BBM sampai ke SPBU secara bertahap," tegas Fahrogi.
Gubernur Sumut: Kendala Utama Ada pada Pengemudi Mobil Tangki
Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menyampaikan penjelasan yang berbeda.
Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, Bobby menyebut hasil pengecekan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menunjukkan persoalan bukan terletak pada stok BBM, melainkan terganggunya distribusi akibat keterbatasan pengemudi mobil tangki.
"Tadi kami sudah cek. Jadi yang pertama ini bukan kelangkaan BBM-nya, tetapi yang langka katanya adalah pengemudi yang mengantar BBM. Jadi yang terganggu adalah distribusinya," kata Bobby.
Menurutnya, sempat terjadi pemberhentian massal sehingga sebagian armada pengangkut BBM tidak dapat beroperasi secara optimal.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Sumut telah berkoordinasi dengan Pertamina, TNI, dan Polri guna menyiapkan personel pengemudi sementara serta pengamanan distribusi BBM.
"Saya minta mulai malam ini tim dari TNI dan Polri sudah siap. Jumlah personel dan driver yang dibutuhkan masih dalam tahap koordinasi bersama Pertamina agar distribusi BBM dapat segera kembali normal," ujarnya.
Meski sama-sama menilai persoalan utama berada pada aspek distribusi, terdapat perbedaan penekanan antara kedua pihak. Pertamina menyebut lonjakan konsumsi sebagai faktor utama yang menyebabkan distribusi terganggu, sedangkan Gubernur Sumatera Utara menilai keterbatasan pengemudi mobil tangki menjadi penyebab utama.
Fakta di Lapangan: Antrean Masih Terjadi
Terlepas dari berbagai upaya percepatan distribusi, kondisi di lapangan hingga Rabu (15/7/2026) masih menunjukkan antrean panjang di sejumlah SPBU.
Sebelumnya, pada Selasa (14/7/2026), Opsinews.com juga memantau antrean kendaraan di SPBU 14.202.154 Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Pabatu, Kecamatan Padang Hulu, Kota Tebing Tinggi. Puluhan kendaraan roda dua maupun roda empat mengantre sejak pagi, bahkan barisan kendaraan mengular hingga keluar area SPBU.
Seorang warga mengaku kondisi tersebut telah berlangsung selama beberapa hari terakhir.
"Setiap hari saya berangkat kerja harus menghadapi antrean panjang di SPBU. Kalau tidak kebagian, saya terpaksa membeli BBM dari pengecer dengan harga jauh lebih mahal. Untuk satu liter bisa mencapai Rp20 ribu hingga Rp30 ribu. Kondisi ini sangat memberatkan masyarakat kecil," ujarnya.
Menurutnya, kelangkaan BBM tidak hanya menghambat aktivitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan beban ekonomi karena harus membeli BBM dengan harga jauh di atas harga resmi.
Pantauan Opsinews.com di sejumlah SPBU di Kabupaten Serdang Bedagai juga menunjukkan antrean kendaraan masih mengular hingga ke badan jalan. Sebagian warga mengaku khawatir tidak memperoleh BBM untuk mendukung aktivitas bekerja, mengangkut hasil usaha, maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Masyarakat Berharap Distribusi Segera Normal
Masyarakat berharap langkah-langkah percepatan distribusi yang dilakukan Pertamina bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, TNI, Polri, Hiswana Migas, serta pihak terkait lainnya segera membuahkan hasil sehingga pasokan BBM kembali normal.
Selain itu, warga meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi BBM agar kejadian serupa tidak terus berulang, khususnya di Kota Tebing Tinggi dan Kabupaten Serdang Bedagai.
Masyarakat juga berharap pemerintah dan Pertamina terus menyampaikan informasi secara terbuka mengenai perkembangan distribusi BBM guna menghindari keresahan dan spekulasi di tengah masyarakat.
Dengan pulihnya distribusi BBM, diharapkan antrean panjang di SPBU segera terurai, aktivitas ekonomi masyarakat kembali berjalan normal, serta kebutuhan energi masyarakat Sumatera Utara dapat terpenuhi secara merata. (Mendrova)
Komentar Anda :